Mengatasi Writer's Block
Senin, 23 Januari 2023
KBMN PGRI Angkatan 28
Kegiatan malam ini dibuka oleh Ibu Rally dengan berdoa. Semoga semua selalu dalam keadaan sehat wal'afiat, diberikan kemudahan dan dilancarkan urusan agar bisa menginspirasi dengan berbagi ilmu yang bermanfaat dan berkah.
Dilanjutkan mengajukan moderator yaitu Ibu Raliyanti, S.Sos., M.Pd. salah satu dari Tim Solid yang biasa dipanggil Ibu Rali merupakan alumni kelas menulis di gelombang 20 bersama dengan Bapak Dail dan Ibu Helwiyah. Menurut pengalaman Ibu Rali mampu lulus di kelas menulis Angkatan 20 karena rutin mengikuti kegiatan, mensupport diri untuk terus menyelesaikan resume tepat waktu, saling blog walking memberi semangat peserta lain yang sejatinya untuk menyemangati diri sendiri. Akhirnya bisa lulus dengan baik karena jumlah resumenya sesuai kategori dan sudah berhasil memiliki buku karya sendiri. Karya pertama Ibu Rali yaitu sebuah buku berjudul " Wujudkan Mimpi Terbitkan Buku", selanjutnya yang kedua " Guru di Era Digital." Selasin itu, ada 17 judul buku antologi yang berupa buku fiksi maupun nonfiksi. Luar biasa Ibu Rali,
Sebagai narasumber adalah Ibu Dita Widya Utami, S.Pd. salah satu guru IPA di SMPN 1 Cipeundeuy, Subang, Jawa Barat. Ibu Dita merupakan alumni kelas menulis angkatan 7. Menurut Ibu Dita s iaapa pun yang ingin menjadi penulis andal, maka harus siap dengan prosesnya. Tidak bisa instan tentu saja. Diperlukan jam terbang yang cukup banyak agar bisa menjadi seperti Omjay, Bunda Kanjeng, Pak Dail, Bunda Aam, Bu Rali, Pak Bams, Prof. Eko, dan lainnya.
Berikut profil Ibu Dita
https://ditawidyautami.blogspot.com/p/profil.html?m=1 _
Dita Widya Utami sudah senang membaca buku-buku cerita sejak kecil (sebelum SD). Senang menulis sejak di sekolah dasar (dalam buku diary). Lalu saat SMP, sering mengirim tulisan ke mading sekolah dan pernah menulis cerita di buku tulis yang dibaca bergiliran oleh teman-teman. Guru Bahasa Inggris saat itu, mengarahkan untuk menulis diary dalam bahasa Inggris. Ketika SMA, masih tetap menulis diary. Beberapa teman dekat yang membaca sempat berkomentar bahwa diary itu sudah seperti novel.
Berawal dari membuat resume, kemudian kembali aktif menulis di blog. Bahkan berkesempatan menulis bersama Prof. Eko. Alhamdulillah menjadi 1 di antara 9 orang (angkatan pertama tantangan Prof. Eko) yang bukunya terbit di penerbit mayor. Karena terbiasa menulis juga akhirnya bisa menyelesaikan esai di seleksi Calon Pengajar Praktik Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 3 dan lulus. Alhamdulillah saat ini sedang bertugas lagi di Angkatan 6.
Jadi sebenarnya disadari maupun tidak keterampilan menulis memiliki banyak manfaat. Ada yang menulis karena hobi, kebutuhan, tuntutan profesi, dan lain sebagainya. Apa pun alasannya, aktivitas menulis memang tak bisa lepas dari kita sebagai makhluk yang berbahasa dan berbudaya.
Aktivitas menulis itu maknanya luas, ada tulisan pribadi dalam bentuk diary, ada karya tulis ilmiah, ada cerpen, artikel, resume, dsb.
Menulis adalah kata kerja yang hasilnya bisa sangat beragam. Oleh karena itu tak hanya novelis, cerpenis, jurnalis atau blogger, namun ada juga copywriter yg tulisannya mengajak orang untuk membeli produk, ada content writer yang bertugas membuat tulisan profesional di website, ada script writer menulis naskah film/sinetron, ada ghost writer, techincal writer, hingga UX writer, dll. : Nyatanya, penulis-penulis tersebut masih bisa terserang virus WB alias Writer's Block. Tak peduli tua atau muda, profesional atau belum, WB bisa menyerang siapa pun yang masuk dalam dunia kepenulisan. Oleh karena itu, penting bagi seorang penulis untuk mengenali WB dan cara mengatasinya. WB ini bisa menjangkiti dalam hitungan detik, menit, hari, minggu, bulan, bahkan tahunan. Tergantung seberapa cepat kita menyadari dan mengatasinya.
Sederhananya, WB adalah kondisi dimana kita mengalami kebuntuan menulis. Tak lagi produktif atau berkurangnya kemampuan menulisnya. Hal ini dapat terjadi dengan disadari atau pun tidak. Istilah writer's block sebenarnya sudah ada sejak tahun 1940an. Diperkenalkan pertama kali oleh Edmund Bergler, seorang psikoanalis di Amerika.
Berkaca dari pengalaman, WB ini bisa terjadi berulang kali. Me-reinfeksi kita sebagai penulis. Itulah mengapa menyebut WB ini sebagai "virus" yang sesekali bisa aktif bila kondisinya memungkinkan. Ibarat penyakit, tentu akan lebih mudah disembuhkan bila kita mengetahui faktor penyebabnya, bukan?
Begitu pula dengan WB. Agar dapat dihindari atau segera lepas dari WB, maka kita perlu mengidentifikasi alasannya.
Berikut adalah beberapa hal yang dapat menyebabkan WB:
- 1.Mencoba metode/topik baru dalam menulis sebenarnya bisa menjadi penyebab sekaligus obat untuk WB. Ada orang yang senang menulis cerpen atau puisi. Kemudian tiba-tiba harus menulis KTI yang tentu saja memiliki struktur dan metode penulisan yang berbeda. Bila tak lekas beradaptasi, bisa jadi kita malah terserang WB..Maka, mencoba hal baru dalam menulis bisa jadi solusi alternatif, urusan hal-hal baru yang berbeda dengan sebelumnya pasti menyenangkan juga bisa sesekali mengulang dan melakukan hal yang disukai untuk refreshing. Membaca buku-buku ringan untuk cemilan otak juga bisa jadi solusi mengatasi WB. WB juga bisa terjadi karena kita belum bisa mengekspresikan ide dalam bentuk kata. Jadi dengan membaca, kita bisa menambah kosa kata
- 2.Dalam Kamus Psikologi, stress diartikan sebagai ketegangan, tekanan, tekanan batin, ketegangan dan konflik.
- 3 .Lelah fisik/mental akibat aktivitas harian yang padat juga dapat memicu stres.
- 4. Terakhir yang bisa menyebabkan WB terlalu sempurna.Kondisi menulis dimana kita tidak memikirkan salah eja, salah ketik, koherensi dsb ternyata dalam dunia psikologi dikenal dengan istilah free writing atau menulis bebas.Nah, jadi siapa di sini yang masih khawatir tulisannya tidak dibaca? Khawatir dinyinyir orang? Khawatir dikritik ahli? Khawatir tulisannya nggak bagus? Dan masih banyak kekhawatiran lain.
Setelah sesi tanya jawab akhirnya sampailah kita di penghujung waktu kegiatan malam ini. Dilanjutkan Closing statement dari narasumber Ada pepatah yang mengatakan:"Tidak peduli seberapa cemerlang otakmu. Jika kamu tidak berbicara, itu akan menjadi nol."Mari, tuangkan dan sampaikan ide ide kita, pemikiran pemikiran kita, perasaan perasaan kita agar menjadi lebih bermakna,



Comments
Post a Comment